inilah cinta

Januari 23, 2009 - Leave a Response

Inilah cinta…

Yang merangkak di gelap jiwa

Mengendap dan meratap

Penuh harap

Akan sebuah rahasia yang tak terucap

Semoga terungkap

‘Kan terpana

Teracuh segala nyana

Terbuang semua gundah gulana

Hilang diri, terlepas raga

“Fana”

Inilah cinta…

Ketika terlilit gaun putih

Entah baju pengantin, entah kafan

Entah ini liang, atau pelaminan

Entah tangis mengiring, ataukah tawa

Cinta masihlah rahasia

Ku akan terus mencinta

Bisakah surya melepas cahya

Mencinta, menari dan berkidung

Dalam diampun, bertabur senandung

Ku akan mencinta, terus mencinta

Meski hilang “karena”, meski tiada “kepada”

Bilapun masih ada cinta

Ku akan mencinta, mencinta cinta

entah

Januari 23, 2009 - Leave a Response

Entah engkau yang terlalu indah?

Atau aku yang terlalu rendah?

Entah engkau yang terlalu murah senyum?

Atau aku yang terlalu mudah menangis?

Entahkah cinta yang begitu besar?

Ataukah aku yang penyabar?

Apakah malam yang terlalu kelam?

Ataukah rindu yang demikian dalam?


Hingga…

Keindahan senyummu,

datang dengan cinta dan air mata,

di kelam malam,

melemparku ke dekapan rindu

padamu…

ya Ali

Desember 26, 2008 - Leave a Response

Di atas menara tawalli, aku berkata ya Ali
Dalam Lumpur akhir zaman, kaulah permata, ya Ali

Jiwa ini, raga ini, Hidup ini, mati ini
Aku serahkan padamu, semata-mata, ya Ali

Silmun liman salamakum, ku tebar cinta dan senyum
harbun liman harabakum, ku angkat senjata ya Ali

“ain”-mu melingkar di dada, “lam”-mu mengait di hati
“Ya” dan kedua titikmu, rapih tertata ya Ali

Selain hunus Zul Fiqar, tiada pisau dan pedang
Selain engkau oh… jawara, sungguh la fata ya Ali

Engkau ganas dan garang, dalam gaduh medang perang
Namun di hampar sajjadah, menangis mata ya Ali

Atas dasar keadilan, bukan karna kebakhilan
Harta benda baitul mal, kau bagi rata ya Ali

Ali ialah pintu ilmu, pemegang cawan di Kautsar
Siapa yang ingin ke sana?, mari berkata berkata ya Ali

risalah cinta

Desember 26, 2008 - Leave a Response

Dunia di dalam asmara cinta
Selatan cinta, utara cinta

Langit dan bumi, laut dan darat
Menyatu di dalam negara cinta

Di kota, cinta, di desa, cinta
Di dalam rimba blantara cinta

Di dalam kerang dasar samudera
Terlihat kilau mutiara cinta

Meskipun hening seluruh jagad
Terdengar bisik suara cinta

Cahaya Ilahi ibarat lentera
Di ranting zaitun membara cinta

Bagai sekejap kerling mata
Hanyalah satu perkara cinta

Siapa gerangan cipta perdana
Dialah pijar jawara cinta

Putra sang datuk pembangun kedai
Di tengah gurun sahara cinta

Merekah di dalam gembala kasih
Mewangi di dalam kembara cinta

Di kala bertapa, tiba sang patih
Berkata: “bacalah! Aksara cinta”

Setitik hujan menetes, mengalir
Kemudian sampai ke muara cinta

Dialah cinta, pancaran cinta
Bertindak cinta, bicara cinta

Merangkul insan, merengkuh cipta
Sesama kasih, setara cinta

Layaklah manusia menari, berkidung
Seiring senandung asmara cinta

Berfikir, berlaku, bertutur dan sapa
Melihat, mendengar, secara cinta

Memang tiada dapat dibantah
Betapa beratnya prahara cinta

Seperti Yusuf menepis diri
Terkurung di dalam penjara cinta

Musnahkan dirimu, sebelum kau musnah
Terkubur di balik pusara cinta

Sungguh tiada dapat tercapai
Bahagia tanpa sengsara cinta

Tiada penyembuh segala luka
Selain duka dan lara cinta

Jikalau Ammar berbual serapah
Baginya murka angkara cinta

tapi tak bisa

November 30, 2008 - Leave a Response

ku ingin darimu jauh, tapi tak bisa

kuingin s’pertimu angkuh, tapi tak bisa

lihatlah aku terjatuh, di lubuk cinta

ku ingin hatimu luluh, tapi tak bisa

melati murung

November 23, 2008 - Leave a Response

usirlah sendu wahai melati

mekarkan senyum berat kendati

tebarlah rindu wangi di hati

kaulah semerbak cinta sejati

rias riang

November 23, 2008 - Leave a Response

hapus bintik kelam prahara

dengan kuas sulam asmara

hiasi paras secantik dara

pesona merambah selatan utara

lontar sajakku

November 15, 2008 - Leave a Response

Lontar sajakku bukanlah panah

Padamu terarah,

Sayat hatimu kucurkan darah

Mengapa harus marah?

Mengapa terbesit kata benci?

Rajut kataku bukanlah caci

Untuk apa kau geram?

Pada lukaku kau tabur garam?

Sedang aku di sini,

Di lembah asing nan curam,

Bernaung sepi temaram,

Berselimutkan suram,

Sendiri menantinya

kurasa hadirmu

Oktober 25, 2008 - Leave a Response

Di ranum pagi
Di sungging senyum ufuk timur
Di untai mega-mega emas
Kurasa hadirmu

Di sapa sang terbit
Di percik cahya sang mentari
Di gulung layar hari-hari
Kurasa hadirmu

Di sejuk embun
Di pucuk daun yang berkidung
Di riang rumput yang menari
Kurasa hadirmu

Di hingar siang
Di hiruk pikuk keakraban
Di ramai simpang siur cita
Kurasa hadirmu

Di lembah malam
Di rengkuh hening sunyi kelam
Di rantai pilu yang mencekam
Kurasa hadirmu

lilit rindu

Oktober 25, 2008 - Leave a Response

Terpasung dalam lilit rindu
Terkurung dalam lingkar pilu
Bahana cinta teriak
Dalam hening diamku

Mendayung dalam cengang pana
Terapung dalam pasang nyana
Buih asmara beriak
Di atas ombak jiwaku

Kadang angan menari syahdu
Kadang nadi riuh beradu
Kadang manis ibarat madu
Kadang pahit bagai empedu
Oh…
Kadang pula semua berpadu

Menggantung pada dinding harap
Mematung dalam dingin ratap
Gelora cinta bergolak
Dalam jerit erangku